Lima Etika Dakwah yang Perlu Dijaga Setiap Pendakwah
kua mayangan

Lima Etika Dakwah yang Perlu Dijaga Setiap Pendakwah

30 Oktober 2026102 kali dibaca

Melalui kanal informasi Penais Kemenag, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama membagikan lima etika dakwah yang semestinya menjadi pegangan setiap pendakwah dalam menjalankan tugasnya.

KUA Mayangan - Dakwah tidak hanya menuntut kedalaman ilmu dan kepiawaian menyampaikan pesan, tetapi juga akhlak yang terjaga dari para penyampainya. Melalui kanal informasi Penais Kemenag, Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama membagikan lima etika dakwah yang semestinya menjadi pegangan setiap pendakwah dalam menjalankan tugasnya. Lima etika tersebut dirujuk dari buku Ilmu Dakwah karya Prof. Dr. Abdullah, M.Si., terbitan Citapustaka Media, Bandung, tahun 2015.

Pertama, tidak takut kecuali kepada Allah. Seorang pendakwah dituntut menyampaikan kebenaran secara tegas dan lugas tanpa dipengaruhi rasa gentar terhadap tekanan, ancaman, maupun kepentingan manusia. Rasa takut hanya layak ditujukan kepada Allah SWT.

Kedua, tidak mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Pendakwah wajib menjaga kemurnian ajaran agama. Kebenaran harus disampaikan secara jelas dan tidak dikaburkan dengan hal-hal yang menyimpang, sehingga umat memperoleh pemahaman yang utuh dan lurus.

Ketiga, tidak mencari kemuliaan dari manusia. Dakwah semestinya dijalankan dengan niat ikhlas karena Allah, bukan untuk meraih popularitas, pujian, ataupun kedudukan di tengah masyarakat.

Keempat, tidak meminta imbalan atau menetapkan tarif. Dakwah merupakan amanah dan ibadah. Karena itu, pendakwah dianjurkan tidak menjadikannya sebagai ajang transaksi dengan mematok bayaran tertentu atas dakwah yang disampaikan.

Kelima, satu kata dengan perbuatan. Pendakwah dituntut menjadi teladan. Apa yang disampaikan kepada umat harus sejalan dengan sikap dan perilakunya sehari-hari, sebab keteladanan merupakan bentuk dakwah yang paling berpengaruh.

Kelima etika tersebut menegaskan bahwa keberhasilan dakwah ditentukan bukan semata oleh retorika dan penguasaan materi, melainkan juga oleh keikhlasan, integritas, dan keteladanan penyampainya. Dengan menjaga etika, dakwah diharapkan tetap menyejukkan, dipercaya masyarakat, dan memberi manfaat nyata bagi umat. (Hmd)

 

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait