Peran Baru Penyuluh Agama Di Era AI (Artificial Intelligence)
kua mayangan

Peran Baru Penyuluh Agama Di Era AI (Artificial Intelligence)

15 September 2026238 kali dibaca

AI tidak bisa menggantikan keunggulan humanis penyuluh seperti keteladanan, empati, pendampingan, serta kemampuan membaca realitas dan memberikan bimbingan yang kontekstual, sehingga Penyuluh Agama dituntut untuk mampu memahami dan memprediksi arah perubahan zaman agar dakwah tidak tertinggal.

KUA Mayangan - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), peran Penyuluh Agama dinilai perlu bertransformasi. Kementerian Agama (Kemenag) menyoroti pentingnya posisi Penyuluh Agama sebagai 'Fact Checker' atau pemeriksa fakta berbasis sanad keilmuan yang kuat.

Hal ini menjadi sorotan utama dalam infografis yang dipublikasikan oleh Kemenag baru-baru ini. Lembaga tersebut menekankan bahwa keberadaan AI telah mengubah lanskap pemahaman keagamaan masyarakat, namun tidak serta-merta menggantikan posisi humanis seorang penyuluh.

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

Tantangan Pemahaman Agama di Era AI

Dijelaskan bahwa pemahaman agama masyarakat saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks. Mulai dari keterbukaan geografis, tekanan ekonomi global, disrupsi teknologi, hingga perkembangan pesat Akal Imitasi (AI). Fenomena ini menuntut penyuluh untuk lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Kemenag mengidentifikasi setidaknya ada dua poin penting terkait keberadaan AI dalam konteks keagamaan. Pertama, AI memang mempermudah akses pengetahuan agama. Namun, terdapat kelemahan mendasar: informasi yang disajikan AI terkadang tidak benar, tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, dan minim validitas. Oleh karena itu, AI hanya bisa menjadi alat bantu (sebagai asisten), bukan rujukan utama dalam masalah agama.

Keunggulan Penyuluh: Empati dan Keteladanan

Meski AI menawarkan kemudahan, Kemenag menegaskan bahwa Penyuluh Agama memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki mesin. Keunggulan tersebut terletak pada aspek humanis, yakni keteladanan, empati, dan pendampingan langsung kepada masyarakat.

Selain itu, Penyuluh Agama memiliki kemampuan membaca realitas sosial dan kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan yang kontekstual. Hal ini menjadi pembeda utama antara interaksi manusia dengan kecerdasan buatan.

Pesan untuk Penyuluh: Navigasi Perubahan Zaman

Kemenag memberikan amanat kepada para penyuluh agar tidak tertinggal. Penyuluh dituntut untuk mampu memahami apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat, sekaligus memprediksi arah perubahan yang akan datang. Penyuluh harus memahami apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat, sekaligus mampu memprediksi arah perubahan yang akan datang. Dakwah tidak boleh tertinggal oleh perubahan zaman.

Dengan peran baru ini, diharapkan Penyuluh Agama dapat menjadi filter yang efektif dalam menyaring informasi keagamaan di ruang digital, memastikan umat mendapatkan bimbingan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga mendalam secara spiritual dan ilmiah. Kemenag.go.id. (Hmd)

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait