Kritik sebagai Cermin: Kemenag Kota Probolinggo Apresiasi Kritik Membangun Warga
kua mayangan

Kritik sebagai Cermin: Kemenag Kota Probolinggo Apresiasi Kritik Membangun Warga

21 September 2026222 kali dibaca

Kritik yang disampaikan dengan niat membangun dapat menjadi energi untuk berbenah. Kritik yang baik tidak menghancurkan, melainkan memperbaiki. Kritik yang bijak tidak menjatuhkan, melainkan menguatkan. Dan kritik yang lahir dari kepedulian dapat menjadi jalan menuju perbaikan.

KUA Mayangan - Kritik tidak selamanya harus dipandang sebagai serangan. Ketika disampaikan dengan niat baik, kritik justru mampu menjadi cermin yang membantu seseorang atau sebuah institusi melihat kekurangan yang mungkin tidak terlihat oleh mata sendiri. Prinsip inilah yang tampaknya menjadi landasan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Probolinggo dalam menyikapi masukan dari masyarakat.

Kemenag Kota Probolinggo menegaskan komitmennya membuka ruang partisipasi publik dalam upaya peningkatan kualitas layanan. Wujud nyata dari komitmen tersebut adalah pemberian Piagam Penghargaan kepada Abd. Mannan, seorang penerima layanan yang dinilai menyampaikan kritik dan saran konstruktif melalui kanal Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) "SOLUSI" yang tersedia di website Kemenag Kota Probolinggo.

Penghargaan tersebut diserahkan secara khusus oleh Kepala Kantor Kemenag Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, pada Kamis (17/9/2026), bertempat di ruang Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kemenag Kota Probolinggo.

Abd. Mannan tercatat sebagai penerima layanan pengajuan Izin Operasional (IJOP) Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) di wilayah Jrebeng Lor, Kota Probolinggo. Dalam proses menerima layanan tersebut, ia tidak sekadar menerima, tetapi turut memberikan kritik dan saran yang konstruktif melalui kanal "SOLUSI".

Kritik sebagai Bahan Evaluasi

Bagi Kemenag Kota Probolinggo, masukan tersebut bukan sekadar penilaian terhadap layanan, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk melihat berbagai hal yang masih perlu diperbaiki.

"Kita tidak alergi terhadap kritik. Kita terbuka terhadap masukan dari masyarakat. Apa pun kritik dan sarannya, selama disampaikan untuk membangun, tentu akan kita apresiasi sebagai bagian dari kontribusi masyarakat terhadap pelayanan kita," ujar Didik Kurniawan.

Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik menjadi salah satu modal penting dalam membangun budaya kerja yang terus melakukan perbaikan. Masukan masyarakat dapat menjadi cermin bagi Kemenag untuk melihat layanan dari perspektif penerima layanan secara langsung.

"Dari sini kita bisa berbenah, terus bergerak, melangkah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Ini juga menjadi bagian dari komitmen kita dalam membangun Zona Integritas. Sekali layar terkembang, surut kita berpantang," tegasnya.

Masyarakat sebagai Mitra Perbaikan

Apresiasi kepada Abd. Mannan sekaligus menjadi pesan bahwa masyarakat bukan hanya sebagai penerima layanan, tetapi juga memiliki ruang untuk ikut berkontribusi dalam peningkatan kualitas pelayanan publik.

Melalui kanal "SOLUSI", Kemenag Kota Probolinggo membuka ruang komunikasi yang lebih luas antara penyelenggara layanan dan masyarakat. Kritik, saran, maupun pengalaman masyarakat dalam menerima layanan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menghadirkan pelayanan yang semakin mudah, transparan, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

"Terima kasih atas saran dan kritik yang membangun," menjadi pesan sederhana yang mengiringi pemberian apresiasi tersebut.

Kritik yang Membangun

Pada hakikatnya, kritik yang disampaikan dengan niat membangun dapat menjadi energi untuk berbenah. Kritik yang baik tidak menghancurkan, melainkan memperbaiki. Kritik yang bijak tidak menjatuhkan, melainkan menguatkan. Dan kritik yang lahir dari kepedulian dapat menjadi jalan menuju perbaikan.

Sebab, pribadi yang kuat bukanlah pribadi yang tidak pernah dikritik, melainkan pribadi yang mampu menerima masukan, melakukan introspeksi, memperbaiki kekurangan, dan terus bertumbuh menjadi lebih baik. Begitu pula dengan institusi: pelayanan publik yang baik bukanlah pelayanan yang merasa sudah sempurna, melainkan pelayanan yang mau mendengar, bersedia mengevaluasi, dan terus memperbaiki diri. (Hmd)

 

 

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait