KUA Mayangan - Di tengah deru modernitas, masyarakat Indonesia tetap memelihara salah satu warisan budaya Islam Nusantara yang sarat makna: selametan. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cermin rasa syukur dan permohonan keselamatan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial keagamaan.
Merujuk pada data dan literatur yang terhimpun dalam Ensiklopedia Islam Nusantara Edisi Budaya yang diterbitkan Kementerian Agama RI (2018), kata "selametan" ditelusuri asal-usulnya dari bahasa Arab, salamah, yang secara etimologis bermakna selamat, terbebas dari marabahaya, dan berada dalam lindungan keselamatan. Tradisi ini tumbuh dan berkembang sebagai salah satu "kembang" (manifestasi) peradaban Islam di Nusantara. Keistimewaannya terletak pada kemampuannya membaur dengan kearifan lokal setempat tanpa sedikit pun menggerus esensi ajaran Islam, melainkan justru memperkaya wajah keislaman di tanah air.
Menilik lebih dalam siklus kehidupan manusia, selametan hadir sebagai penanda penting dalam setiap fase. Di antaranya adalah tradisi ngupati atau ngololosi, yang digelar ketika kandungan memasuki usia empat bulan, momen sakral di mana Allah meniupkan ruh ke dalam janin. Kemudian, ada tingkeban atau mitoni pada bulan ketujuh kehamilan, yang diisi dengan doa dan harapan akan pertolongan serta kemudahan dari Allah SWT. Tak berhenti di situ, tradisi ini juga merangkai perayaan walimatul aqiqah (cukur rambut dan akikah), khitanan, pernikahan (walimatul ursy), hingga rangkaian penghormatan bagi mereka yang telah berpulang, seperti tahlilan, haul, dan peringatan seribu hari.
Cakupan selametan pun meluas hingga ke ranah hari-hari besar keislaman, seperti perayaan 1 Muharam (Tahun Baru Islam), 10 Muharam (Hari Asyura), 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi Muhammad SAW), serta dua hari raya umat Islam, Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan, pada tataran personal dan komunal, selametan kerap digelar menyambut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kenaikan kelas, perolehan beasiswa, promosi jabatan, musim panen raya, hingga peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Semua itu dilakukan sebagai bentuk ekspresi syukur yang tulus dan sekaligus ikhtiar kolektif untuk menolak bala serta menjauhkan diri dari musibah.
Dengan keberagaman bentuk dan kedalaman maknanya, tradisi selametan terbukti tetap relevan dan adaptif terhadap zaman. Ia bukan hanya menjadi perekat sosial yang mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat spiritual yang menyejukkan jiwa. Tradisi ini menjadi bukti otentik bahwa Islam di Nusantara tidak hanya hidup dalam teks-teks suci, tetapi juga berdenyut dinamis dalam tradisi, adat, dan budaya yang terus dirawat serta diwariskan secara turun-temurun lintas generasi. (Hmd)



