Hadrah, Media Syiar yang Menggabungkan Religiusitas dan Seni dalam Dakwah Islam
kua mayangan

Hadrah, Media Syiar yang Menggabungkan Religiusitas dan Seni dalam Dakwah Islam

31 Juli 202642 kali dibaca

Hadrah menjadi bukti nyata bahwa syiar Islam dapat berjalan seirama dengan apresiasi terhadap seni dan budaya lokal, tanpa kehilangan ruh keimanan dan ketakwaan.

KUA Mayangan - Di tengah dinamika dakwah kontemporer, kesenian Islami seperti Hadrah tetap eksis sebagai media syiar yang efektif. Tidak hanya sebagai hiburan, Hadrah juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah melalui lantunan salawat, zikir, serta nasihat keagamaan yang dikemas dalam irama musik tradisional. Hadrah, yang secara bahasa berarti "kehadiran", merujuk pada tradisi zikir kolektif yang diiringi dengan alunan musik dan nasyid. Kegiatan ini biasanya diawali dengan pembacaan doa khusus dan surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan pembacaan hizib tarekat serta salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran fisik, tetapi juga kehadiran spiritual menuju Allah dan Rasul-Nya.

Tradisi ini telah dikenal sejak era Rasulullah. Ketika Nabi tiba di Madinah, kaum Anshar menyambut beliau dengan gembira melalui syair salawat "Tala'al Badru" yang diiringi dengan tabuhan rebana. Seiring waktu, Hadrah berkembang dengan variasi pesan, tembang, dan alat musik, namun tetap mempertahankan esensi dakwah dan pujian kepada Rasulullah. Pelaksanaan Hadrah biasanya dilakukan pada malam atau hari Jumat, peringatan kelahiran anak (aqiqah), khitanan, serta berbagai acara khusus dalam kalender Islam seperti Maulid Nabi dan Isra Mikraj. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah dan menghidupkan suasana keislaman di tengah masyarakat.

Dari segi musik, Hadrah menggunakan seperangkat alat musik perkusi tradisional seperti terbang genjing, terbang keprak, terbang dumbuk, terbang tung, dan terbang bas. Perpaduan suara alat musik ini menciptakan harmoni yang khas dan mampu membangkitkan semangat jamaah dalam berzikir. Menurut para penggiat dakwah, Hadrah bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan media pendidikan spiritual yang menyentuh hati. Dengan syair-syair yang mengandung nasihat dan keteladanan, Hadrah mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai keagamaan dan kehidupan sehari-hari umat Islam.

 

Daftar Referensi

1. Sejarah dan Asal-Usul Hadrah

2. Pengertian dan Etimologi

3. Peran sebagai Media Dakwah dan Seni Islam

4. Perkembangan dan Fungsi Kontemporer

 

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait