KUA Mayangan - Di tengah dinamika dakwah kontemporer, kesenian Islami seperti Hadrah tetap eksis sebagai media syiar yang efektif. Tidak hanya sebagai hiburan, Hadrah juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah melalui lantunan salawat, zikir, serta nasihat keagamaan yang dikemas dalam irama musik tradisional. Hadrah, yang secara bahasa berarti "kehadiran", merujuk pada tradisi zikir kolektif yang diiringi dengan alunan musik dan nasyid. Kegiatan ini biasanya diawali dengan pembacaan doa khusus dan surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan pembacaan hizib tarekat serta salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kehadiran dalam konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai kehadiran fisik, tetapi juga kehadiran spiritual menuju Allah dan Rasul-Nya.
Tradisi ini telah dikenal sejak era Rasulullah. Ketika Nabi tiba di Madinah, kaum Anshar menyambut beliau dengan gembira melalui syair salawat "Tala'al Badru" yang diiringi dengan tabuhan rebana. Seiring waktu, Hadrah berkembang dengan variasi pesan, tembang, dan alat musik, namun tetap mempertahankan esensi dakwah dan pujian kepada Rasulullah. Pelaksanaan Hadrah biasanya dilakukan pada malam atau hari Jumat, peringatan kelahiran anak (aqiqah), khitanan, serta berbagai acara khusus dalam kalender Islam seperti Maulid Nabi dan Isra Mikraj. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah dan menghidupkan suasana keislaman di tengah masyarakat.
Dari segi musik, Hadrah menggunakan seperangkat alat musik perkusi tradisional seperti terbang genjing, terbang keprak, terbang dumbuk, terbang tung, dan terbang bas. Perpaduan suara alat musik ini menciptakan harmoni yang khas dan mampu membangkitkan semangat jamaah dalam berzikir. Menurut para penggiat dakwah, Hadrah bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan media pendidikan spiritual yang menyentuh hati. Dengan syair-syair yang mengandung nasihat dan keteladanan, Hadrah mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai keagamaan dan kehidupan sehari-hari umat Islam.
Daftar Referensi
1. Sejarah dan Asal-Usul Hadrah
- Sejarah hadrah merujuk pada tradisi masyarakat Madinah di abad ke-6 yang menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan syair "Thaala'al Badru" yang diiringi tabuhan rebana sebagai ungkapan kegembiraan .
- Asal-usul hadrah berakar dari Timur Tengah dan berkembang dalam tradisi tasawuf tarekat, seperti Qadiriyyah dan Syadziliyyah, sebelum menyebar ke Nusantara pada abad ke-13 .
2. Pengertian dan Etimologi
- Secara bahasa, hadrah berasal dari kata Arab ḥaḍrah yang berarti "kehadiran", merujuk pada kehadiran spiritual dalam zikir dan shalawat .
- Dalam praktiknya, hadrah adalah ritual kolektif yang dilakukan oleh sufi, berisi dzikir, pembacaan Al-Quran, dan pujian kepada Nabi .
3. Peran sebagai Media Dakwah dan Seni Islam
- Hadrah berfungsi sebagai sarana dakwah dan pendidikan karakter, dengan syair-syairnya yang sarat nilai-nilai ajaran Islam murni .
- Kesenian ini merupakan hasil akulturasi antara ajaran Al-Qur'an (perintah shalawat) dengan budaya lokal masyarakat Indonesia .
- Di Indonesia, hadrah memiliki wadah organisasi bernama ISHARI (Ikatan Seni Hadrah Indonesia) yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama, disahkan pada 23 Januari 1959 di Pasuruan .
4. Perkembangan dan Fungsi Kontemporer
- Hadrah tidak hanya dimainkan dalam majelis dzikir, tetapi juga tampil di panggung budaya, televisi, dan media sosial, membuktikan relevansinya di zaman modern .
- Perkembangan hadrah juga terlihat dari festivalisasi dan kompetisi yang didukung negara, menjadikannya contoh bagaimana praktik keagamaan dinegosiasikan di ruang publik .
- Di era modern, hadrah menjadi bagian penting dalam menarik minat dan bakat pemuda untuk mendalami kesenian Islam, dengan tetap menjaga nilai-nilai spiritual dan estetika. (Hmd)



