Kota Probolinggo (Humas Kemenag) – Dalam rangka mengevaluasi capaian kinerja Triwulan II Tahun 2026, khususnya terhadap Indikator Kinerja Sasaran Kegiatan (IKSK) yang melekat pada Kantor Urusan Agama (KUA) dalam lingkup fungsi agama, Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo melaksanakan Tilik Kinerja atau peninjauan langsung ke seluruh KUA se-Kota Probolinggo pada 1–7 Juli 2026.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, bersama tim evaluasi. Adapun jadwal pelaksanaan meliputi KUA Kanigaran pada 1 Juli, KUA Mayangan pada 2 Juli, KUA Kademangan pada 3 Juli, KUA Wonoasih pada 6 Juli, dan KUA Kedopok pada 7 Juli 2026.
Didik Kurniawan menjelaskan bahwa Tilik Kinerja merupakan bagian dari upaya memastikan kesesuaian antara perencanaan dan realisasi program, mengukur tingkat pencapaian IKSK pada fungsi agama di KUA, mengidentifikasi berbagai kendala beserta langkah perbaikannya, serta menghimpun data dan informasi sebagai bahan penyusunan laporan capaian kinerja yang akan disampaikan kepada Menteri Agama melalui aplikasi SIPKA (Sistem Informasi Performa Kementerian Agama).
"Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan bahwa data yang disampaikan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan, sekaligus menjadi dasar penyusunan laporan kinerja yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Ia menjelaskan, sejumlah indikator yang menjadi fokus evaluasi antara lain persentase penyelenggaraan Early Warning System (EWS), persentase Penyuluh Agama dengan nilai kinerja kategori baik, rasio Penyuluh Agama terhadap kelompok sasaran penyuluhan, persentase pelaksanaan bimbingan perkawinan, peningkatan dialog kerukunan yang difasilitasi, jumlah fasilitator bimbingan perkawinan yang tersertifikasi, serta persentase peningkatan layanan bimbingan keluarga.
Pada setiap sesi pembinaan, Didik juga memberikan penguatan kepada jajaran KUA dan para Penyuluh Agama. Ia mengajak seluruh ASN untuk membangun pola pikir yang adaptif melalui pendekatan deduktif maupun induktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan.
Menurutnya, pelaksanaan Early Warning System (EWS) tidak boleh dipandang semata-mata bergantung pada dukungan anggaran. Yang lebih penting adalah membangun jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak sebagai sarana deteksi dini terhadap potensi konflik sosial keagamaan.
"Membangun jaringan berarti memperluas akses informasi, peluang, dan dukungan. Relasi yang luas menjadi mata dan telinga yang mampu membantu memantau, mendeteksi, serta memperoleh informasi yang tidak selalu tersedia di ruang publik," tegasnya.
Dalam bidang bimbingan perkawinan, Didik juga mengingatkan agar para pelaksana tidak lagi terjebak pada pola pikir lama atau sekadar membedakan layanan klasikal dan mandiri. Menurutnya, ASN harus mampu membaca regulasi secara utuh serta menyelesaikan persoalan dengan perspektif yang lebih luas.
"Jangan melihat persoalan dengan 'kacamata kuda'. Kita harus cerdas memahami regulasi dan mampu menghadirkan solusi yang adaptif sesuai kebutuhan masyarakat," pesannya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh penerapan prinsip-prinsip manajemen yang baik, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan.
"Membangun kinerja membutuhkan proses dan konsistensi. Perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan harus menjadi budaya kerja yang memerlukan komitmen serta effort yang luar biasa," ungkapnya.
Di hadapan jajaran KUA, Kepala Kantor juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh pegawai dalam menjalankan tugas dan menyajikan data kinerja.
"Terima kasih atas kerja keras dan data yang telah disiapkan. Kehadiran kami ke KUA bukan karena tidak percaya terhadap laporan yang dibuat, melainkan untuk menyambungkan informasi, memverifikasi data administratif, sekaligus melihat langsung praktik baik yang telah dilaksanakan di lapangan," katanya.
Menutup arahannya, Didik menegaskan bahwa seluruh aktivitas pada bidang urusan agama merupakan bagian penting dari tugas dan tanggung jawab Kementerian Agama. Ia mengajak seluruh jajaran untuk tetap optimistis dan profesional dalam bekerja.
"Mari tetap produktif, bahkan ketika berada di bawah tekanan. Keterbatasan anggaran bukanlah penghalang untuk menghadirkan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Yang terpenting adalah inovasi, kolaborasi, dan semangat pengabdian," pungkasnya. (Rief/Humas)



