Sejarah dan Keutamaan Jumat sebagai Sayyidul Ayyam
kua mayangan

Sejarah dan Keutamaan Jumat sebagai Sayyidul Ayyam

10 Juli 202658 kali dibaca

Hari Jumat bukan semata hari berkumpul untuk ibadah, melainkan hari yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidup manusia, sejak penciptaan Adam hingga datangnya kiamat.

KUA Mayangan - Hari Jumat bukan sekadar penanda akhir pekan atau momentum pelaksanaan salat berjamaah. Dalam khazanah Islam, Jumat menyandang status istimewa sebagai Sayyidul Ayyam—pemimpin segala hari. Karenanya, Jumat tidak layak dipandang sebagai rutinitas mingguan belaka, melainkan momen penuh keberkahan, simbol persatuan umat, serta sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 Asal-usul Nama Jumat

Menurut Kamus Al-Lughah Al-‘Arabiyah Al-Mu‘ashirah, lafal "Jumat" dapat dibaca dalam tiga varian: Jumu‘ahJum‘ah, dan Juma‘ah. Kendati demikian, bentuk yang paling populer dan lazim digunakan adalah Jumu‘ah. Imam al-Farra’ menegaskan bahwa ketiga bacaan tersebut memiliki makna yang sama, yakni merujuk pada aktivitas berkumpulnya manusia.

Menariknya, masyarakat Arab pada era Jahiliyah sama sekali belum mengenal nama “Jumat”. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal jilid II halaman 2, Syekh Sulaiman Jamal mengungkapkan bahwa hari tersebut kala itu disebut ‘Arubah. Nama ini erat kaitannya dengan tradisi berhias, simbol kebanggaan, serta ajang saling pamer kelebihan.

Pada masa itu, orang-orang Arab berkumpul untuk mempertontonkan berbagai hal: mulai dari pembacaan puisi terbaik, pameran hasil dagang, demonstrasi kemampuan sihir, hingga gengsi kesukuan dan kekayaan. Karena itu, ‘Arubah pada masa Jahiliyah menjelma menjadi simbol kemegahan dan kebanggaan duniawi yang dominan.

 

https://www.facebook.com/share/19EEmiDEUj/
https://www.facebook.com/share/19EEmiDEUj/

Transformasi Hari 'Arubah Menjadi Jumat

Islam datang dengan membawa perubahan fundamental atas tradisi tersebut. Perintah Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9 mengubah hari pamer menjadi hari keimanan, hari mendekatkan diri kepada-Nya, dan momen persatuan umat sekaligus ajang silaturahmi akbar:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Jumu’ah: 9)

Ayat ini menjadi titik balik historis, menggeser orientasi Jumat dari budaya pamer materialistik menuju ritual spiritual yang kolektif.

 

Lima Keistimewaan Hari Jumat

Hari Jumat juga menyandang predikat sayyidul ayyam, penghulu segala hari, karena Allah SWT menganugerahkan sejumlah keistimewaan dan menakdirkan peristiwa-peristiwa besar padanya. Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits yang menguraikan lima keutamaan utama Jumat:

“Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari hari raya kurban dan hari raya fitri. Di dalamnya terdapat lima keutamaan: pada hari itu Allah menciptakan Adam, mengeluarkannya dari surga ke bumi, dan pada hari itu pula Adam wafat. Di dalamnya terdapat satu waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu kepada Allah kecuali dikabulkan, selama ia tidak meminta dosa atau memutus silaturahmi. Hari kiamat pun terjadi pada hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan, langit, bumi, angin, gunung, dan batu, melainkan mereka merasa khawatir akan terjadinya kiamat pada hari itu.” (HR. al-Syafi’i dan Ahmad)

 

https://www.facebook.com/share/18pNcjz8SK/
https://www.facebook.com/share/18pNcjz8SK/

Penciptaan Adam dan Waktu Mustajab

Imam Ibnu Hajar al-Asqallani dalam Fathul Bari turut menjelaskan riwayat dari Imam Ahmad yang menambah penegasan keistimewaan Jumat. Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya, “Mengapa hari ini dinamakan Jumat?” Beliau menjawab:

“Karena pada hari itu tanah liat ayah kalian, Adam, dicetak. Pada hari itu pula kiamat dan kebangkitan terjadi. Pada hari itu pula kehancuran akan datang. Dan pada akhir tiga waktu di hari itu terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, niscaya doanya dikabulkan.”

Hadits ini mengukuhkan bahwa Jumat bukan semata hari berkumpul untuk ibadah, melainkan hari yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidup manusia, sejak penciptaan Adam hingga datangnya kiamat. Karena itu, Islam menempatkan Jumat sebagai hari yang istimewa, sarat keberkahan, dan sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah serta doa. (Hmd)

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait