Probolinggo (Humas Kemenag) – Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Kota Probolinggo menggelar Rapat Kerja (Raker) Program Kerja Tahun Ajaran 2026/2027 di Hall Resto Kebun Bambu, Dringu, Kamis (13/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi program sekaligus menyatukan langkah dalam memperkuat mutu dan profesionalisme pengelolaan madrasah.
Raker dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah M. Zainullah, Pengawas RA/MI, serta para Kepala MI se-Kota Probolinggo.
Ketua KKMI Kota Probolinggo, Maulawi Masduki, dalam laporannya menyampaikan bahwa Raker bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program sebelumnya, menyusun rencana kegiatan strategis, serta meningkatkan profesionalisme kepala madrasah.
“Raker ini menjadi ruang kolaborasi untuk menyatukan gagasan dan menyusun program yang mampu mengoptimalkan mutu pendidikan dasar Islam di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kankemenag Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, mengibaratkan pengelolaan lembaga pendidikan seperti sebuah orkestra. Kepala madrasah merupakan dirigen yang menentukan arah, guru dan tenaga kependidikan menjadi para musisi, kurikulum sebagai partitur, sedangkan peserta didik merupakan harmoni yang dihasilkan dari seluruh proses pendidikan.
“Semua bagian harus berjalan selaras, seirama, dan saling mendukung. Ketika seluruh elemen mampu memainkan perannya dengan baik, maka akan lahir harmoni pendidikan yang indah dalam bentuk prestasi dan kualitas madrasah,” jelasnya.
Menurut Didik, kepala madrasah memiliki peran strategis dalam mengorkestrasi seluruh sumber daya yang dimiliki lembaga. Kepala madrasah tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi, tetapi juga harus mampu menerjemahkan visi, menggerakkan tim, mengelola program, serta melakukan evaluasi secara berkelanjutan.
“Seorang dirigen menentukan tempo, memberi arah, menyatukan visi, dan memastikan setiap pemain memainkan perannya pada waktu yang tepat. Begitu pula kepala madrasah, harus mampu mengarahkan seluruh elemen madrasah agar bergerak menuju tujuan yang sama,” tuturnya.
Ia menjelaskan, guru dan tenaga kependidikan memiliki kompetensi serta peran yang berbeda, sebagaimana musisi memainkan alat musik yang berbeda. Namun, semuanya harus tetap berada dalam satu irama dan mengikuti panduan yang sama.
“Kurikulum adalah partitur yang menuntun proses pembelajaran. Sementara sarana, prasarana, dan lingkungan pendidikan merupakan instrumen pendukung agar proses pendidikan dapat menghasilkan suara yang kuat, harmonis, dan bermakna,” imbuhnya.
Didik juga menekankan tiga hal penting dalam pengelolaan madrasah, yakni harmoni dan kolaborasi, disiplin dan latihan, serta kepekaan pemimpin.
Menurutnya, tidak ada satu unsur pun yang boleh berjalan sendiri atau merasa paling dominan. Guru, tenaga kependidikan, kepala madrasah, peserta didik, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan harus saling menguatkan.
“Tidak ada alat musik yang paling penting dalam sebuah orkestra. Semuanya memiliki peran. Demikian juga di madrasah, semua unsur harus saling mengisi agar tidak terjadi ‘nada sumbang’ dalam proses pendidikan,” tegasnya.
Selain itu, kedisiplinan dan pembiasaan juga menjadi bagian penting dalam membangun kualitas. Keteraturan, kepatuhan terhadap aturan, serta evaluasi dan latihan yang dilakukan secara konsisten akan membuat kualitas pengelolaan madrasah semakin matang.
“Yang tidak kalah penting adalah kepekaan seorang pemimpin. Pemimpin harus tahu kapan sebuah bagian harus diperlambat, dipercepat, diperkuat, atau diberi ruang. Kepala madrasah harus peka terhadap persoalan guru maupun peserta didik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Didik juga mengajak kepala madrasah untuk lebih jeli membaca potensi lingkungan sekitar. Menurutnya, madrasah yang berkualitas tidak semestinya merasa terbebani dalam memperoleh peserta didik apabila mampu membangun keunggulan dan kepercayaan masyarakat.
“Kita sebenarnya bisa memulai dari membaca peta demografi di wilayah masing-masing. Misalnya, di sekitar madrasah terdapat RA, tetapi lulusannya tidak melanjutkan ke MI kita. Ini harus menjadi bahan evaluasi. Apa yang perlu kita perbaiki dan apa yang harus kita tawarkan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap setiap madrasah mampu mengembangkan karakter dan keunggulannya masing-masing. Madrasah yang telah maju juga diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi madrasah lainnya melalui budaya berbagi dan kolaborasi.
“Madrasah yang sudah maju jangan pelit berbagi ilmu. Mari tumbuh bersama. Begitu pula peserta didik yang berprestasi, akan kita berikan apresiasi dalam bentuk-bentuk yang sesuai,” pesannya.
Didik kemudian secara resmi membuka Raker Program Kerja KKMI Kota Probolinggo Tahun Ajaran 2026/2027.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Raker Program Kerja KKMI Kota Probolinggo Tahun Ajaran 2026/2027 saya buka. Semoga menghasilkan program kerja yang berkualitas untuk kemajuan madrasah, sehingga semakin bermutu dan mendunia,” pungkasnya.
Raker KKMI Kota Probolinggo diharapkan menjadi pijakan bersama untuk memperkuat kepemimpinan kepala madrasah, meningkatkan kolaborasi, serta menghadirkan program pendidikan yang semakin adaptif dan berdampak bagi peserta didik. (Rief/Humas)



