Mengapa Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Asal-Usul dan Tradisinya di Indonesia
kua mayangan

Mengapa Muharram Identik dengan Anak Yatim? Ini Asal-Usul dan Tradisinya di Indonesia

22 Juni 202654 kali dibaca

Muharram identik dengan anak yatim sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

KUA Mayangan - Bulan Muharram, penanda tahun baru Hijriyah, menyimpan tradisi mulia yang telah mengakar di Indonesia: kepedulian terhadap anak yatim. Pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura, masyarakat Muslim kerap menyebutnya sebagai "Lebaran Anak Yatim" atau "Idul Yatama." Lantas, mengapa bulan suci ini begitu identik dengan santunan anak yatim?

Akar Tradisi dari Ajaran Rasulullah

Tradisi menyantuni anak yatim di bulan Muharram berakar dari ajaran Rasulullah SAW yang sangat menekankan pemuliaan anak yatim. Dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 220 menjadi landasan spiritual yang mendorong umat Islam untuk memperbaiki keadaan anak yatim dan memperlakukan mereka sebagai saudara.

https://www.facebook.com/share/15ussdnWSsp/
https://www.facebook.com/share/15ussdnWSsp/

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yatim, kehilangan ayah sebelum lahir dan ibunda di masa kecil. Pengalaman pahit itulah yang membuat beliau begitu perhatian terhadap anak yatim. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, "Aku dan orang yang merawat anak yatim akan seperti ini di surga," seraya mengisyaratkan kedekatan jari telunjuk dan jari tengah.

Meskipun tidak ada dalil shahih yang secara khusus menetapkan 10 Muharram sebagai "Hari Raya Anak Yatim," tradisi ini berkembang di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia, sebagai bentuk implementasi ajaran Rasulullah. Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abu Laits As-Samarqandi, disebutkan bahwa mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura dapat mendatangkan pahala besar. Hadis ini, meskipun dianggap dhaif oleh sebagian ulama, tetap menjadi motivasi bagi umat Islam untuk memperbanyak kasih sayang kepada anak yatim di bulan ini.

Lebaran Anak Yatim: Makna di Balik Tradisi

Di Indonesia, tradisi santunan anak yatim pada 10 Muharram telah menjadi bagian dari budaya keagamaan yang inklusif. Ulama seperti KH Sholeh Darat, dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah, menyebutkan bahwa 10 Muharram adalah hari untuk bergembira dengan sedekah, terutama kepada anak yatim dan fakir miskin.

"Idul Yatama" menjadi ungkapan kegembiraan bagi anak yatim karena mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang berlimpah pada hari ini. Tradisi ini mengajarkan umat Islam untuk selalu peduli terhadap golongan yang lemah, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Salah satu makna utama dari tradisi ini adalah untuk melembutkan hati. Dalam hadis riwayat Thabrani, Rasulullah bersabda, "Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makanan dari makananmu." Hari Asyura menjadi momen untuk mengamalkan hadis ini melalui tindakan nyata, memberikan santunan berupa uang, pakaian, atau makanan.

Tradisi di Berbagai Daerah

Di banyak daerah di Indonesia, masjid dan majelis taklim mengadakan acara santunan anak yatim pada 10 Muharram, diisi dengan pembacaan sholawat, doa, dan kegiatan hiburan untuk anak-anak. Salah satu tradisi yang populer adalah mengusap kepala anak yatim, yang diyakini membawa keberkahan.

Di Kelurahan Mayangan, misalnya, kegiatan santunan diadakan selepas sholat Ashar, diiringi pembacaan sholawat dan doa Asyura. Banyak komunitas juga mengadakan pertunjukan musik Islami atau permainan tradisional untuk menghibur anak yatim.

Organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) mendorong umat Islam untuk memanfaatkan 10 Muharram sebagai momen berbagi. Sementara Muhammadiyah lebih berhati-hati, menekankan bahwa tidak ada dalil shahih yang mengharuskan santunan hanya dilakukan pada 10 Muharram. Meskipun ada perbedaan pendapat, tradisi ini tetap dianggap mulia karena sejalan dengan ajaran Islam tentang kepedulian sosial.

Mengapa Tradisi Ini Harus Dilestarikan?

https://www.facebook.com/share/19xxCBwrWd/
https://www.facebook.com/share/19xxCBwrWd/

Menyantuni anak yatim adalah investasi amal yang dijanjikan pahala besar oleh Allah SWT. Tradisi Lebaran Anak Yatim membantu anak yatim merasa dihargai dan diterima dalam masyarakat, meningkatkan rasa percaya diri dan harapan untuk masa depan.

Dari sisi pendidikan, tradisi ini menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai keislaman seperti empati dan kepedulian sejak dini. Melibatkan generasi muda dalam kegiatan santunan membentuk karakter peduli terhadap sesama.

KH Cholil Nafis menegaskan bahwa meskipun hadis tentang keutamaan mengusap kepala anak yatim pada 10 Muharram dianggap dhaif, tradisi ini tetap memiliki nilai akhlak yang mulia. "Tradisi ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus meneladani Rasulullah dalam menyayangi anak yatim, tidak hanya pada 10 Muharram, tetapi sepanjang waktu," ujarnya.

Kesimpulan

Muharram identik dengan anak yatim sebagai wujud nyata dari nilai-nilai Islam yang mengajarkan kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Meskipun tidak didasarkan pada dalil shahih yang khusus, tradisi Lebaran Anak Yatim pada 10 Muharram telah menjadi bagian dari budaya keagamaan di Indonesia yang kaya akan makna.

Dengan melestarikan tradisi ini, umat Islam tidak hanya meneladani Rasulullah SAW, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan memberikan harapan bagi anak yatim. Mari jadikan Muharram sebagai momen untuk terus berbagi kebaikan, tidak hanya pada 10 Muharram, tetapi sepanjang waktu. (Hmd)

Kunjungi: https://mayangan.kemenagkotaprobolinggo.id/#berita

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait