KUA Mayangan - Pergantian tahun baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah kembali menjadi momen refleksi bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, tahukah Anda mengapa bulan Muharam dipilih sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriah, bukan bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan bersejarah saat Rasulullah SAW tiba di Madinah?
Berdasarkan sejarah yang tercatat, penetapan Muharam sebagai bulan pertama kalender Islam tidak lepas dari peran penting Khalifah Umar bin Khattab. Berbagai riwayat menyebutkan bahwa kebijakan ini muncul akibat adanya keluhan mengenai surat-surat resmi kekhalifahan yang tidak mencantumkan penanggalan yang jelas. Bahkan dalam satu riwayat, Imam Malimun bin Mahran menyodorkan dokumen kesepakatan dua orang tanpa keterangan tahun kepada Umar, yang kemudian menjadi pemicu perlunya sistem penanggalan resmi dalam pemerintahan Islam.
Umar pun menggelar musyawarah dengan para sahabat untuk membahas pentingnya kalender Islam yang baku. Dalam forum tersebut, Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai titik awal penanggalan. Usulan ini dipilih karena hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan tonggak transformasi besar dalam sejarah dakwah Islam.
Meskipun peristiwa hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, namun atas dasar pertimbangan sistem rotasi bulan dan kemudahan dalam siklus tahunan, Muharam akhirnya ditetapkan sebagai bulan pertama. Penanggalan Hijriah memiliki jumlah hari sebanyak 354 atau 355 hari per tahun, sehingga lebih pendek 11 hingga 12 hari dibandingkan kalender Masehi. Perbedaan ini menyebabkan tahun Hijriah selalu bergeser lebih awal setiap tahunnya jika dibandingkan dengan kalender Gregorian.
Secara resmi, kalender Hijriah mulai diberlakukan pada 8 Rabiul Awal tahun 17 Hijriah, yang bertepatan dengan 15 Juli 662 Masehi. Penetapan ini disepakati sebagai langkah penting untuk menandai identitas dan kedaulatan umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk administrasi pemerintahan, perdagangan, dan pencatatan peristiwa sejarah.
Makna hijrah sendiri tidak hanya terbatas pada perpindahan geografis. Lebih dari itu, hijrah menjadi simbol transformasi dakwah Islam dari masa penindasan menuju kejayaan. Di Madinah, Islam mulai memiliki kedudukan yang kuat dan kokoh, terbentuknya komunitas umat yang teratur, hingga apa yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal "negara Islam Madinah". Peristiwa ini juga menjadi momen Allah SWT memisahkan antara yang hak dan yang batil.
Oleh karena itu, setiap pergantian tahun Hijriah diharapkan menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu mengenang semangat hijrah, baik dalam arti fisik maupun perubahan perilaku menuju kebaikan. Muharam sebagai bulan pertama mengajarkan bahwa setiap awal perjalanan harus dilandasi niat yang tulus dan rencana yang matang, sebagaimana Rasulullah SAW merencanakan hijrah dengan penuh perhitungan. (Hmd)
Referensi sejarah:
- Jalaleddin As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa, 2007.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Bi Syarhi Shahihul Bukhari, 2004.
- Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, 2008.
- Dermawan Abdullah, Ilmu Hijrah, 2011.



