Kepala Kemenag Kota Probolinggo Dorong Transformasi Wakaf Produktif pada Pengukuhan BWI Periode 2025–2028
umum

Kepala Kemenag Kota Probolinggo Dorong Transformasi Wakaf Produktif pada Pengukuhan BWI Periode 2025–2028

20 Agustus 202620 kali dibaca

Didik Kurniawan, Kepala Kemenag Kota Probolinggo, menyoroti bahwa dari 400 aset wakaf bersertifikat di kota Probolinggo, semuanya masih bersifat konsumtif untuk peribadatan dan sosial. Ia mendorong transformasi menuju wakaf produktif yang dinilai memiliki manfaat hingga berlipat-lipat karena asetnya dikelola secara berkelanjutan demi kemaslahatan umat.

Kota Probolinggo (Kemenag) - Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jawa Timur, Dr. KH. Mustain, M.Ag., secara resmi mengukuhkan Pengurus BWI Kota Probolinggo masa bakti 2025-2028. Acara pengukuhan berlangsung di Puri Manggala, Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, pada Kamis (20/8/2026).

Kegiatan strategis tersebut dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Wali Kota Probolinggo, Sekretaris Daerah, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag), serta para kepala kantor urusan agama (KUA), camat, dan lurah se-Kota Probolinggo.

Hadir pula pimpinan dari berbagai lembaga keagamaan dan kemasyarakatan, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dewan Masjid Indonesia (DMI), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah.

Usai prosesi pengukuhan, rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah narasumber guna membahas arah baru pengelolaan aset umat di daerah. Ketua BWI Jatim, menyampaikan bahwa Wakaf Adalah "Raksasa Tidur". Dalam pemaparannya, Ketua BWI Jawa Timur, Mustain, menekankan pentingnya pengamanan aset sekaligus penguatan fungsi wakaf yang tidak lagi terbatas pada benda tidak bergerak seperti tanah, melainkan juga mencakup instrumen wakaf uang. "Jangan meninggal sebelum mempunyai mesin pencetak pahala," ujar Mustain. Ia mengibaratkan potensi besar wakaf abadi di Indonesia sebagai "raksasa tidur" yang harus segera dioptimalkan demi kesejahteraan umat.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, menyoroti tantangan nyata di wilayah kerjanya, yakni belum adanya pengelolaan wakaf produktif. Berdasarkan data, dari total 400 aset wakaf yang telah tersertifikasi, seluruhnya masih bersifat konsumtif untuk kepentingan peribadatan dan sosial dasar, seperti masjid, musala, lembaga pendidikan madrasah, dan lahan pemakaman.

"Wakaf mempunyai potensi dan tantangan," tegasnya. Didik menambahkan, transformasi menuju wakaf produktif memiliki nilai dan manfaat sepuluh kali lipat, bahkan berlipat-lipat dibandingkan wakaf konsumtif, karena asetnya dikelola untuk menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan bagi kemaslahatan masyarakat.

Kepala BPN Kota Probolinggo, Siswoyo, menyatakan komitmen dan kesiapan instansinya dalam mengawal legalitas serta kepastian hukum atas seluruh aset wakaf di wilayah setempat. "Kami siap membantu sepenuhnya," ucap Siswoyo. Ia juga menyerukan pentingnya kolaborasi lintas sektor guna memperkuat tertib administrasi pertanahan wakaf.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif untuk merumuskan langkah taktis pengembangan tata kelola wakaf di Kota Probolinggo pada masa mendatang. (Mnr/Hmd)

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait