Kota Probolinggo (Humas Kemenag) — Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo terus memperkuat gerakan kantor ramah lingkungan melalui Workshop Pengelolaan Sampah Perkantoran yang menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kota Probolinggo, Kamis (7/5/2026), di aula kantor setempat.
Kegiatan ini diikuti koordinator Eco Office dari masing-masing seksi, unit satuan kerja madrasah, serta perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kota Probolinggo. Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang peduli lingkungan sekaligus mendukung implementasi program Ekoteologi Kementerian Agama.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, menyampaikan bahwa gerakan kantor ramah lingkungan sejatinya telah lama dijalankan di lingkungan Kemenag Kota Probolinggo. Menurutnya, salah satu program strategis Kementerian Agama saat ini adalah Ekoteologi, yaitu penguatan nilai-nilai keagamaan yang selaras dengan upaya pelestarian lingkungan hidup.
“Merawat lingkungan merupakan amanah sekaligus bentuk ketaatan kepada Tuhan. Program ini bertujuan menciptakan kerukunan holistik, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh agama mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Dalam Islam, konservasi lingkungan berlandaskan prinsip tauhid dengan menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan alam (mizan) dan dilarang melakukan kerusakan (fasad). Menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari implementasi iman melalui konservasi sumber daya dan pengendalian eksploitasi berlebihan.
Sementara dalam ajaran Kristen, menjaga lingkungan dipandang sebagai mandat ilahi atau bentuk penatalayanan untuk memelihara ciptaan Tuhan. Dalam ajaran Hindu dikenal konsep Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Sedangkan ajaran Buddha mengajarkan kasih sayang serta hidup selaras dengan alam semesta.
“PR kita bersama adalah bagaimana Ekoteologi tidak berhenti menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam praktik nyata di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Didik menambahkan, berdasarkan KMA Nomor 44 Tahun 2025, gerakan Ekoteologi diwujudkan melalui berbagai program seperti penanaman pohon, KUA Green Building, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Bahkan di lingkungan KUA se-Kota Probolinggo, gerakan peduli lingkungan tersebut rutin dilaksanakan setiap hari Jumat.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH Kota Probolinggo, Aricandra N., selaku narasumber utama menjelaskan bahwa Eco Office atau kantor ramah lingkungan merupakan bentuk kebijakan kantor dalam menerapkan sistem manajemen lingkungan secara berkelanjutan.
“Tujuannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, tertib, rapi, aman, dan indah atau BESTARI, serta tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar,” terangnya.
Menurutnya, indikator keberhasilan program Eco Office meliputi terciptanya lingkungan kantor yang nyaman dan bersih, perubahan perilaku individu di lingkungan kerja, penurunan volume limbah dan sampah, hingga pemanfaatan kembali limbah kantor.
Selain itu, keberhasilan program juga dapat dilihat dari penurunan emisi kendaraan karyawan, efisiensi biaya operasional, meningkatnya kualitas lingkungan kerja, serta munculnya respon positif dari masyarakat maupun tamu yang datang ke kantor.
Aricandra menegaskan bahwa faktor utama dalam penerapan Eco Office adalah komitmen seluruh individu di lingkungan kantor. Implementasinya dapat dilakukan melalui pengurangan penggunaan kertas, pemanfaatan kembali barang yang masih layak pakai, daur ulang limbah kantor, efisiensi energi dan air, serta membangun budaya kerja ramah lingkungan.
“Budaya eco-friendly dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membawa tumbler sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan beralih ke dokumen digital atau paperless,” pungkasnya.
Workshop berlangsung interaktif melalui sesi dialog dan diskusi bersama peserta. Di akhir kegiatan, tim DLH Kota Probolinggo melakukan peninjauan langsung terhadap penerapan kantor ramah lingkungan di setiap ruangan, termasuk lokasi pengelompokan dan pengelolaan sampah.
Hasil peninjauan menunjukkan penerapan tata ruang dan budaya kerja ramah lingkungan di Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo dinilai sudah berjalan baik. Tim DLH memberikan apresiasi atas komitmen dan langkah nyata yang telah dilakukan dalam mendukung gerakan pelestarian lingkungan hidup di lingkungan perkantoran. (Rief/Humas)



