Malang (Humas Kemenag) — Semangat membangun birokrasi yang bersih, profesional, dan melayani terus diperkuat Tim Pembangunan Zona Integritas (ZI) Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo melalui kegiatan Best Practice Sharing on Integrity Zone bersama Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Kemenag Kota Malang tersebut menjadi ruang belajar sekaligus refleksi bersama dalam memperkuat budaya integritas di lingkungan kerja. Rombongan Kemenag Kota Probolinggo dipimpin langsung Kepala Kantor Kemenag Kota Probolinggo, Didik Kurniawan.
Kehadiran tim pembangunan ZI tersebut merupakan bagian dari ikhtiar kolektif mewujudkan birokrasi yang tidak hanya bersih secara administratif, namun juga menghadirkan pelayanan publik yang berintegritas dalam keseharian.
Mewakili tuan rumah, Plt. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kemenag Kota Malang, Ahmad Hadiri, menegaskan bahwa pembangunan Zona Integritas tidak dapat dibangun secara individual, melainkan membutuhkan keterlibatan dan kesadaran seluruh elemen organisasi.
“Pembangunan Zona Integritas merupakan kerja bersama, bukan kerja perorangan. Jangan pernah patah semangat, karena yang terpenting adalah semangat kita untuk terus bergerak dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pembangunan integritas bukanlah memulai perubahan, tetapi menjaga konsistensi agar semangat perbaikan terus menyala dalam budaya kerja.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Probolinggo, Didik Kurniawan, mengungkapkan bahwa selama ini berbagai praktik baik sebenarnya telah dijalankan oleh satuan kerja. Namun, sebagian belum terdokumentasi secara optimal dan belum dipahami sebagai bagian penting dari pembangunan Zona Integritas.
“Sesungguhnya apa yang kita lakukan selama ini sudah merupakan bagian dari pembangunan Zona Integritas. Namun terkadang kita belum mendokumentasikan dan belum menyadari bahwa itu adalah bagian dari proses besar membangun integritas,” tuturnya.
Pada sesi pendalaman materi, Kepala Kemenag Kota Malang, Gus Shampton, hadir berbagi pengalaman, strategi, serta budaya kerja yang diterapkan di lingkungan Kemenag Kota Malang sebagai satker role model pembangunan integritas.
Ia memaparkan data nasional pembangunan Zona Integritas tahun 2025 di lingkungan Kementerian Agama. Dari total 4.556 satuan kerja, baru 26 satker berhasil meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), sedangkan hanya 5 satker memperoleh predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Data tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa pembangunan integritas tidak dapat dilakukan secara seremonial, melainkan membutuhkan kesungguhan dan perubahan pola pikir.
“Profesionalisme itu lebih dari sekadar rutinitas,” tegas Gus Shampton.
Ia menjelaskan bahwa profesionalisme bukan sekadar hadir, bekerja, lalu pulang, tetapi merupakan kesadaran untuk selalu memberikan kualitas terbaik dalam setiap pekerjaan melalui perencanaan matang, evaluasi objektif, dan eksekusi yang tepat.
“Seorang profesional menyadari bahwa setiap curahan tenaga adalah investasi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, integritas dipahami bukan hanya sebagai jargon birokrasi, melainkan sebagai nilai hidup yang tercermin dalam setiap pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan mendalam terhadap seluruh area pembangunan Zona Integritas, mulai dari manajemen perubahan, tata laksana, penguatan akuntabilitas, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik. Diskusi berlangsung terbuka dan kritis, tidak hanya membahas keberhasilan, tetapi juga tantangan dan titik rawan yang perlu diperbaiki bersama.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat pembangunan Zona Integritas di lingkungan Kemenag Kota Probolinggo semakin kuat dan mampu menghadirkan tata kelola pemerintahan yang bersih, profesional, serta berorientasi pada pelayanan masyarakat.
“Kita harus menyadari bahwa setiap manusia memiliki potensi baik untuk melaksanakan hal yang benar,” pungkas Gus Shampton. (Rief/Humas).



