Keluarga Sakinah, Fondasi Ibadah dan Peradaban
kua mayangan

Keluarga Sakinah, Fondasi Ibadah dan Peradaban

21 Juli 202656 kali dibaca

Membangun keluarga sakinah adalah perjalanan seumur hidup. Ia dimulai dari niat yang lurus, dilanjutkan dengan komitmen belajar bersama, dan diperkuat dengan doa serta usaha tiada henti.

KUA Mayangan - Konsep keluarga sakinah akhir-akhir ini semakin menjadi perhatian utama di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggoyahkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Para pegiat dakwah, psikolog keluarga, dan tokoh agama sepakat bahwa keluarga sakinah bukanlah sekadar gambaran ideal tanpa makna, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diupayakan secara sadar dan terencana.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan keluarga sakinah? Bagaimana membangun fondasi yang kokoh agar rumah tangga tidak mudah goyah diterpa badai persoalan?

https://www.facebook.com/share/18yNYPcHnE/
https://www.facebook.com/share/18yNYPcHnE/

Keluarga Sakinah: Definisi dan Urgensinya

Secara terminologi, keluarga sakinah adalah keluarga yang diliputi oleh ketenangan jiwa, kedamaian, dan kebahagiaan yang bersumber dari ridha Allah SWT. Istilah ini diambil dari Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 21, yang menyebutkan bahwa pernikahan bertujuan untuk tenciptakan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Keluarga sakinah bukan berarti bebas dari masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu menghadapi setiap ujian dengan iman, ilmu, dan kesabaran. Rumah tangga yang sakinah tidak lahir begitu saja; ia dibangun dari kesadaran bahwa pernikahan adalah ibadah panjang yang membutuhkan komitmen lahir dan batin.

 

Manusia: Hamba dan Khalifah dalam Bingkai Rumah Tangga

Pemahaman mendasar dalam membangun keluarga sakinah dimulai dari kesadaran akan status manusia. Dalam perspektif Islam, manusia menyandang dua peran besar: sebagai hamba Allah ('abdullah) dan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dua status ini tidak bisa dipisahkan. Kesadaran sebagai hamba mendorong ketakwaan, sedangkan kesadaran sebagai khalifah mendorong tanggung jawab sosial.

 

Tanggung Jawab Ilahi dan Insani dalam Pernikahan

Pernikahan modern kerap gagal karena pasangan hanya fokus pada tanggung jawab insani (horizontal) dan mengabaikan tanggung jawab ilahi (vertikal). Pasangan yang hanya mengandalkan logika dan perasaan tanpa landasan spiritual akan mudah retak saat konflik datang. Tanggung jawab ilahi mengingatkan bahwa ada Allah yang mengawasi setiap gerak-gerik kita, sehingga rasa takut untuk berbuat zalim terhadap pasangan lebih tinggi.

Tanggung jawab insani sendiri mencakup:

 

Prinsip-Prinsip Perkawinan dan Keluarga

Dari berbagai kajian, para ulama dan pakar keluarga merumuskan lima prinsip utama dalam membangun keluarga sakinah:

  1. Mawaddah wa Rahmah – Cinta kasih yang tulus dan rahmat yang menyelimuti.
  2. Musyawarah – Setiap persoalan penting diselesaikan melalui diskusi dan kesepakatan bersama.
  3. Keadilan – Tidak ada pihak yang dizalimi, baik dalam nafkah, perhatian, maupun waktu.
  4. Kesetaraan Derajat – Suami dan istri adalah mitra yang saling menguatkan, bukan atasan dan bawahan.
  5. Saling Menasihati – Mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang lembut dan bijaksana.

 

Ciri dan Fungsi Keluarga Sakinah

Lantas, bagaimana mengenali ciri-ciri keluarga sakinah? Dalam modul penyuluhan yang disusun oleh Kementerian Agama dan lembaga dakwah, ada beberapa indikator utama:

Sementara itu, fungsi keluarga sakinah mencakup fungsi keagamaan, pendidikan, perlindungan, sosial, psikologis, dan ekonomi. Semua fungsi ini berjalan terintegrasi dan saling mendukung untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia.

https://www.facebook.com/share/18yNYPcHnE/
https://www.facebook.com/share/18yNYPcHnE/

Membangun dari Niat, Bukan dari Fasilitas

Dalam kesempatan yang sama, para narasumber penyuluhan mengingatkan bahwa keluarga sakinah tidak diukur dari besar rumah, mewahnya kendaraan, atau tinggi jabatan. Sakinah diukur dari seberapa besar ketakwaan, kejujuran, dan kelembutan hati yang terpancar dari setiap anggota keluarga. Rumah yang sederhana namun penuh salawat dan doa akan lebih sakinah daripada istana yang penuh pertengkaran.

Penutup: Sakinah Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan Instan

Membangun keluarga sakinah adalah perjalanan seumur hidup. Ia dimulai dari niat yang lurus, dilanjutkan dengan komitmen belajar bersama, dan diperkuat dengan doa serta usaha tiada henti. Di tengah gempuran budaya individualistis dan materialistis, keluarga sakinah menjadi benteng terakhir yang menjaga martabat manusia dan peradaban bangsa.

Karena itu, sudah saatnya setiap pasangan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman utama, kasih sayang sebagai bahan bakar, dan kesabaran sebagai perisai. Karena pada hakikatnya, keluarga yang sakinah adalah keluarga yang diridhai Allah dan menjadi dambaan setiap insan. (Hmd)

Bagikan Artikel

WhatsAppFacebook

Tim Redaksi

Kantor Kementerian Agama Kota Probolinggo

Berita Terkait