KUA Mayangan - Konsep keluarga sakinah akhir-akhir ini semakin menjadi perhatian utama di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggoyahkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Para pegiat dakwah, psikolog keluarga, dan tokoh agama sepakat bahwa keluarga sakinah bukanlah sekadar gambaran ideal tanpa makna, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diupayakan secara sadar dan terencana.
Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan keluarga sakinah? Bagaimana membangun fondasi yang kokoh agar rumah tangga tidak mudah goyah diterpa badai persoalan?
Keluarga Sakinah: Definisi dan Urgensinya
Secara terminologi, keluarga sakinah adalah keluarga yang diliputi oleh ketenangan jiwa, kedamaian, dan kebahagiaan yang bersumber dari ridha Allah SWT. Istilah ini diambil dari Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 21, yang menyebutkan bahwa pernikahan bertujuan untuk tenciptakan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Keluarga sakinah bukan berarti bebas dari masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu menghadapi setiap ujian dengan iman, ilmu, dan kesabaran. Rumah tangga yang sakinah tidak lahir begitu saja; ia dibangun dari kesadaran bahwa pernikahan adalah ibadah panjang yang membutuhkan komitmen lahir dan batin.
Manusia: Hamba dan Khalifah dalam Bingkai Rumah Tangga
Pemahaman mendasar dalam membangun keluarga sakinah dimulai dari kesadaran akan status manusia. Dalam perspektif Islam, manusia menyandang dua peran besar: sebagai hamba Allah ('abdullah) dan sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.
- Sebagai hamba, manusia wajib tunduk dan patuh kepada Allah. Dalam konteks pernikahan, setiap keputusan yang diambil pasangan suami-istri harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai ketuhanan.
- Sebagai khalifah, suami bertanggung jawab memimpin keluarganya dengan adil, sementara istri adalah mitra sejajar dalam mengelola rumah tangga dan mendidik generasi penerus.
Dua status ini tidak bisa dipisahkan. Kesadaran sebagai hamba mendorong ketakwaan, sedangkan kesadaran sebagai khalifah mendorong tanggung jawab sosial.
Tanggung Jawab Ilahi dan Insani dalam Pernikahan
Pernikahan modern kerap gagal karena pasangan hanya fokus pada tanggung jawab insani (horizontal) dan mengabaikan tanggung jawab ilahi (vertikal). Pasangan yang hanya mengandalkan logika dan perasaan tanpa landasan spiritual akan mudah retak saat konflik datang. Tanggung jawab ilahi mengingatkan bahwa ada Allah yang mengawasi setiap gerak-gerik kita, sehingga rasa takut untuk berbuat zalim terhadap pasangan lebih tinggi.
Tanggung jawab insani sendiri mencakup:
- Pemenuhan hak dan kewajiban suami-istri secara adil,
- Komunikasi yang sehat dan terbuka,
- Saling menghormati sebagai individu yang setara derajatnya,
- Pendidikan anak sebagai amanat besar orang tua.
Prinsip-Prinsip Perkawinan dan Keluarga
Dari berbagai kajian, para ulama dan pakar keluarga merumuskan lima prinsip utama dalam membangun keluarga sakinah:
- Mawaddah wa Rahmah – Cinta kasih yang tulus dan rahmat yang menyelimuti.
- Musyawarah – Setiap persoalan penting diselesaikan melalui diskusi dan kesepakatan bersama.
- Keadilan – Tidak ada pihak yang dizalimi, baik dalam nafkah, perhatian, maupun waktu.
- Kesetaraan Derajat – Suami dan istri adalah mitra yang saling menguatkan, bukan atasan dan bawahan.
- Saling Menasihati – Mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang lembut dan bijaksana.
Ciri dan Fungsi Keluarga Sakinah
Lantas, bagaimana mengenali ciri-ciri keluarga sakinah? Dalam modul penyuluhan yang disusun oleh Kementerian Agama dan lembaga dakwah, ada beberapa indikator utama:
- Terciptanya suasana rumah yang aman dan nyaman bagi seluruh anggota,
- Komunikasi yang penuh hormat dan tidak merendahkan,
- Ibadah rutin dilaksanakan bersama, seperti salat berjamaah dan tadarus Al-Qur'an,
- Anak-anak tumbuh dengan kasih sayang dan mendapatkan pendidikan moral yang baik,
- Keluarga mandiri secara ekonomi dan mampu mengelola keuangan dengan bijak,
- Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dalam kebaikan.
Sementara itu, fungsi keluarga sakinah mencakup fungsi keagamaan, pendidikan, perlindungan, sosial, psikologis, dan ekonomi. Semua fungsi ini berjalan terintegrasi dan saling mendukung untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia.
Membangun dari Niat, Bukan dari Fasilitas
Dalam kesempatan yang sama, para narasumber penyuluhan mengingatkan bahwa keluarga sakinah tidak diukur dari besar rumah, mewahnya kendaraan, atau tinggi jabatan. Sakinah diukur dari seberapa besar ketakwaan, kejujuran, dan kelembutan hati yang terpancar dari setiap anggota keluarga. Rumah yang sederhana namun penuh salawat dan doa akan lebih sakinah daripada istana yang penuh pertengkaran.
Penutup: Sakinah Adalah Perjalanan, Bukan Tujuan Instan
Membangun keluarga sakinah adalah perjalanan seumur hidup. Ia dimulai dari niat yang lurus, dilanjutkan dengan komitmen belajar bersama, dan diperkuat dengan doa serta usaha tiada henti. Di tengah gempuran budaya individualistis dan materialistis, keluarga sakinah menjadi benteng terakhir yang menjaga martabat manusia dan peradaban bangsa.
Karena itu, sudah saatnya setiap pasangan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pedoman utama, kasih sayang sebagai bahan bakar, dan kesabaran sebagai perisai. Karena pada hakikatnya, keluarga yang sakinah adalah keluarga yang diridhai Allah dan menjadi dambaan setiap insan. (Hmd)



