KUA Mayangan - Suasana khidmat dan penuh harapan menyelimuti aula Kantor Urusan Agama (KUA) Mayangan pada Kamis pagi. Bukan untuk akad nikah, melainkan untuk "Ngaji pernikahan". Sebanyak 17 pasang calon pengantin (catin) dengan khusyuk mengikuti Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Mandiri Klasikal.
Bagi para peserta, kegiatan ini bukan sekadar formalitas untuk mendapatkan sertifikat. Lebih dari itu, ini adalah "benteng" awal untuk mengarungi bahtera rumah tangga di tengah derasnya arus tantangan zaman. Mereka duduk berdampingan, menyimak dengan antusias setiap arahan dari para fasilitator, seolah sadar bahwa bekal mental dan spiritual sama pentingnya dengan kesiapan materi.
Dipandu oleh fasilitator profesional dari KUA Mayangan, para catin dibekali materi yang komprehensif dan aplikatif. Tidak hanya membahas hak dan kewajiban yang seringkali dianggap klise, bimbingan kali ini menyentuh ranah yang lebih konkret: bagaimana mengelola konflik tanpa harus mempertaruhkan keutuhan keluarga, menjaga kesehatan reproduksi agar kelahiran buah hati menjadi momen bahagia, hingga strategi jitu mengatur keuangan keluarga agar dompet tetap aman dan rumah tangga harmonis.
Kepala KUA Mayangan, Yusron Siswanto, dalam sambutannya menekankan urgensi kegiatan ini di tengah tingginya angka perceraian di beberapa wilayah. Menurutnya, pernikahan adalah ibadah panjang yang membutuhkan ilmu, bukan sekadar mengandalkan perasaan.
"Kami tidak ingin pernikahan hanya berakhir di pelaminan. Tujuan kami adalah menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah; keluarga yang penuh ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Dengan bekal ini, kami berharap para catin tidak mudah goyah ketika badai rumah tangga datang," tegas Yusron dengan penuh semangat.
Dengan berakhirnya bimbingan ini, Kemenag berharap 34 peserta yang hadir tidak hanya siap mengucapkan "Iya" di depan penghulu, tetapi juga siap mengucapkan "Kami bisa" dalam menghadapi setiap dinamika rumah tangga. Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang kekal hingga akhir hayat. (Hmd)



